Breaking News

12 Celana Dalam Raib, Warga Sempu Banyuwangi Geger Aksi Pencuri Misterius

 
Sulis tengah merapikan jemuran di depan rumahnya di Dusun Telagasari, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi(photo by detikjatim)


Banyuwangi – Warga Dusun Telagasari, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, dibuat resah oleh aksi pencurian celana dalam perempuan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Puluhan pakaian dalam milik warga dilaporkan hilang dari jemuran, sementara pelaku hingga kini masih belum berhasil diamankan.

Kasus tersebut semakin menjadi perhatian setelah rekaman dugaan aksi pencurian sempat beredar dan viral di media sosial. Sejumlah warga mengaku khawatir karena barang pribadi yang dicuri diduga akan dimanfaatkan untuk tujuan tertentu.

Ketua Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) Banyuwangi, Abdul Fatah Hasan, memberikan pandangannya mengenai kemungkinan makna di balik pencurian tersebut. Ia menyebut, berdasarkan kepercayaan spiritual tertentu, celana dalam yang menjadi sasaran pencurian dapat dikaitkan dengan berbagai ritual.

Menurut Fatah, kondisi pakaian dalam yang dicuri menjadi salah satu hal yang diperhatikan. Ia menjelaskan bahwa dalam kepercayaan sebagian pelaku ritual, celana dalam yang belum dicuci dianggap masih memiliki jejak atau energi dari pemiliknya.

"Celana dalam yang belum dicuci dianggap masih memiliki energi dari pemiliknya. Energi tersebut dipercaya digunakan untuk tujuan tertentu seperti ritual pelarisan agar usaha atau dagangan lebih diminati," ujar Fatah saat dikonfirmasi, Kamis (9/7/2026).

Ia mengatakan, dalam praktik kepercayaan tersebut, pelaku ritual biasanya tidak mengambil barang secara sembarangan. Korban yang menjadi sasaran disebut dapat dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu sesuai keyakinan pelaku.

Sementara itu, jika yang dicuri adalah celana dalam yang sudah dicuci dan dijemur, Fatah menyebut dalam kepercayaan tertentu hal tersebut sering dikaitkan dengan ritual pengasihan atau pelet.

Bahkan, apabila pelaku mengambil beberapa pakaian dalam sekaligus, hal tersebut dipercaya berkaitan dengan upaya mencari barang yang dianggap paling sesuai untuk kebutuhan ritual.

"Kalau yang diambil lebih dari satu, biasanya dipercaya untuk mencari mana yang dianggap paling cocok digunakan sebagai syarat utama dalam ritual," jelasnya.

Terkait siapa yang menjadi target pencurian, Fatah menyebut tidak ada kriteria yang pasti. Menurutnya, penentuan sasaran bisa berbeda-beda tergantung keyakinan atau arahan dari pihak yang melakukan ritual.

"Setiap penasihat spiritual memiliki cara dan pertimbangan masing-masing," ungkapnya.

Ia juga menyebut dalam kepercayaan tertentu terdapat waktu-waktu yang dianggap memiliki nilai khusus untuk melakukan ritual, salah satunya adalah bulan Suro.

"Kalau terkait waktu tertentu memang ada kepercayaan seperti bulan Suro yang sering dikaitkan dengan pelaksanaan ritual," tambahnya.

Untuk kasus di Dusun Telagasari, Fatah menduga berdasarkan cerita warga terdapat kemungkinan pencurian tersebut dikaitkan dengan ritual pengasihan atau pelet. Namun, hal tersebut masih sebatas pandangan berdasarkan kepercayaan dan belum menjadi kesimpulan terkait motif pelaku.

Sebelumnya, warga Dusun Telagasari digegerkan oleh aksi pencurian celana dalam perempuan yang telah berlangsung sekitar satu bulan. Dalam kejadian tersebut, sejumlah warga kehilangan pakaian dalam yang dijemur di luar rumah.

Salah seorang korban, Sulis Nunda Sari (32), mengaku telah kehilangan sekitar 12 celana dalam miliknya. Ia bahkan pernah melihat langsung seseorang yang diduga sebagai pelaku saat beraksi.

"Saya sempat memergoki pelaku sebanyak tiga kali, tetapi saya tidak berani mengambil tindakan karena merasa takut," ujar Sulis.

Meski sudah ada rekaman video yang diduga memperlihatkan aksi pelaku dan sempat beredar luas, hingga kini identitas pelaku masih belum diketahui. Warga berharap aparat segera mengungkap kasus tersebut agar keresahan masyarakat dapat berakhir.(red/lis)

© Copyright 2022 - Berita Kasus