MOJOKERTO- Bagi para sopir truk angkutan barang, perjalanan panjang tidak hanya soal mengejar waktu pengiriman. Belakangan, mereka harus menghadapi persoalan lain yang tak kalah berat: sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar. Kondisi tersebut semakin rumit ketika sistem barcode pembelian solar yang seharusnya menjadi hak mereka justru disebut telah digunakan pihak lain.
Situasi itu dirasakan Deny, 64, sopir truk gandeng asal Dusun Gempol Joyo, Desa/Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Pria berkumis yang mengenakan topi hitam itu tampak berjalan dengan langkah berat menuju kendaraannya yang terparkir di tepi Jalan Raya Bypass Kota Mojokerto, Rabu (24/6).
Truk gandeng bernopol L 8272 UQ berwarna merah tersebut baru saja menempuh perjalanan dari Solo, Jawa Tengah. Namun, perjalanan menuju tujuan berikutnya harus tertahan lantaran persediaan solar di tangki kendaraan semakin menipis.
Di belakang truk milik Deny, antrean kendaraan angkutan barang mengular hingga sekitar 300 meter. Deretan truk tersebut mayoritas terparkir tanpa sopir di dalam kabin. Para pengemudi memilih turun untuk beristirahat, sekadar mencari makan atau menikmati secangkir kopi sambil menunggu kepastian pasokan solar.
Mereka bukan berhenti karena ingin beristirahat lebih lama. Sebagian besar terpaksa menepi karena kendaraan tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Mereka menunggu distribusi solar subsidi dari depo Pertamina menuju SPBU di Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.
Antrean itu bahkan berlangsung hingga dua hari satu malam.
Deny hanya bisa memandang ke arah SPBU dengan harapan pasokan solar segera datang. Ia mengaku sudah mendapatkan informasi dari petugas bahwa stok solar subsidi di lokasi tersebut masih kosong.
"Petugas SPBU bilang, solar masih kosong," ujar Deny.
Ia menceritakan, dirinya dalam perjalanan dari Solo menuju Manyar, Kabupaten Gresik, untuk mengambil muatan mi instan yang selanjutnya akan dikirim ke Magelang, Jawa Tengah. Namun, perjalanan tersebut terhambat setelah beberapa SPBU yang dilewati tidak mampu memenuhi kebutuhan BBM kendaraannya.
Dengan membawa botol air mineral, Deny kemudian menunjukkan kondisi tangki truknya. Isi solar yang tersisa sudah sangat minim dan tidak cukup untuk melanjutkan perjalanan jauh.
"Sudah menipis. Lima liter saja tidak ada," katanya sembari menunjukkan bagian tangki kendaraan.
Sebelum berhenti di SPBU Lingkungan Kuwung, Deny mengaku telah mencoba mencari solar di sejumlah SPBU sepanjang jalur Bypass Mojokerto menuju arah Surabaya. Namun, usaha tersebut belum membuahkan hasil.
Persoalan semakin pelik ketika ia mendapati barcode MyPertamina untuk pembelian solar subsidi miliknya disebut telah digunakan oleh kendaraan lain. Padahal, menurut Deny, dirinya belum melakukan transaksi pembelian solar di SPBU mana pun pada hari tersebut.
"Kemarin sempat mau isi, katanya barcode sudah dipakai orang lain. Masak sopir bisa melakukan itu? Berarti ada permainan," keluhnya.
Deny mengaku tidak mengetahui secara pasti di SPBU mana barcode tersebut tercatat telah digunakan. Ia hanya mendapat informasi bahwa kuota pembelian solar subsidi untuk kendaraannya sudah terpakai.
Ia pun sempat mencoba menjelaskan kondisi tersebut kepada petugas SPBU. Deny meyakinkan bahwa dirinya belum menggunakan barcode tersebut, tetapi upayanya tetap tidak membuahkan hasil.
"Lha ini ulah siapa? Masa sopir bisa begitu?" ujarnya penuh tanda tanya.
Kondisi itu membuat Deny akhirnya memilih menunggu pasokan solar kembali tersedia. Sebab, jika terlalu lama tertahan, bukan hanya perjalanan yang terganggu, tetapi juga pekerjaan yang sudah menanti di lokasi tujuan.
Ia khawatir batas waktu pengambilan muatan atau delivery order (DO) akan terlewati. Jika itu terjadi, dirinya terancam tidak bisa mengambil barang dan harus menanggung kerugian akibat klaim dari pihak pemilik muatan.
"Maksimal sampai jam 9 malam. Kalau pengiriman solar terlambat, DO kobong (hangus). Tidak bisa muat, nanti kena klaim lagi," ungkapnya.
Menurut Deny, pengambilan muatan mi instan di kawasan Manyar, Kabupaten Gresik, memiliki batas waktu hingga pukul 21.00 WIB. Jika kendaraan tidak tiba sesuai jadwal, maka kesempatan mengambil muatan bisa hilang.
"Kalau SPBU ada kiriman solar ya bisa jalan. Kalau tidak ada, ya tidak bisa muat. Otomatis DO hangus," tambahnya.
Selain kehilangan waktu, keterlambatan akibat antrean solar juga berdampak pada biaya operasional. Uang bekal perjalanan yang telah disiapkan perlahan menipis karena harus digunakan untuk makan dan kebutuhan sehari-hari selama menunggu.
Beban tersebut semakin terasa karena Deny memilih berangkat tanpa kernet meski kendaraan yang dibawanya merupakan truk gandeng. Keputusan itu diambil untuk menekan biaya perjalanan.
"Truk sepanjang ini tanpa kernet karena ongkosnya memang tidak cukup," jelasnya.
Melihat kondisi yang dialami banyak sopir angkutan barang, Deny berharap pemerintah dan Pertamina segera mengambil langkah untuk memastikan ketersediaan solar subsidi. Menurutnya, kelancaran distribusi BBM sangat penting agar aktivitas transportasi barang tidak terganggu.
"Harapannya BBM lancar. Kasihan para sopir, penghasilannya bisa habis hanya karena menunggu solar," tandasnya.(red/lis)

Social Header