Kediri – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri, Jawa Timur, mencatat kinerja industri jasa keuangan di wilayah kerjanya hingga Desember 2025 tetap terjaga dengan baik serta menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil.
Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, menyampaikan bahwa stabilitas tersebut terlihat dari meningkatnya kepercayaan masyarakat dalam menempatkan dana di sektor perbankan maupun pasar modal.
Kepada awak media, ia menjelaskan bahwa penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Desember 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 4,20 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), dengan total mencapai Rp106,9 triliun.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan pada sejumlah produk perbankan, terutama tabungan dan giro yang menunjukkan perkembangan positif sepanjang tahun.
Meski demikian, dari sisi penyaluran kredit tercatat mengalami perlambatan. Pertumbuhan kredit tercatat minus 1,24 persen secara tahunan. Penurunan ini terutama terjadi pada sektor ekonomi pengolahan serta perdagangan besar dan eceran.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat serta sikap kehati-hatian pelaku usaha dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang berkepanjangan dan berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi di daerah.
Walau demikian, profil risiko perbankan di wilayah kerja OJK Kediri masih tergolong terjaga. Hal ini terlihat dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang berada di angka 3,19 persen, masih di bawah ambang batas yang telah ditetapkan.
Sementara itu, pada sektor pasar modal, tingkat inklusi keuangan terus menunjukkan perkembangan yang positif. Jumlah Single Investor Identification (SID) tercatat meningkat 32,97 persen secara tahunan menjadi 535.568 investor.
Instrumen investasi yang paling banyak diminati masih didominasi oleh produk reksadana dengan jumlah investor mencapai 496.295 SID atau tumbuh 33,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, nilai transaksi saham masyarakat di wilayah kerja OJK Kediri juga mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai Rp6,2 triliun atau naik sebesar 269,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut menunjukkan semakin tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal sebagai alternatif pengelolaan keuangan.
Di sisi lain, OJK Kediri juga terus menggencarkan edukasi keuangan serta perlindungan konsumen melalui berbagai program literasi. Upaya ini dilakukan dalam rangka mendukung Gerakan Nasional Cerdas Keuangan yang melibatkan ribuan peserta di 13 kota dan kabupaten di wilayah kerjanya.
Program edukasi tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di sejumlah daerah. Kegiatan literasi dilakukan melalui berbagai program seperti pembiayaan melawan rentenir, program Satu Rekening Satu Pelajar, edukasi Hari Indonesia Menabung, Kediri Financial Festival, hingga edukasi keuangan bagi kelompok penyandang disabilitas.
Melalui berbagai program tersebut, OJK berharap tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat terus meningkat sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
(Red.EH)

Social Header