Kediri - Kegiatan kajian kitab yang rutin digelar di Masjid As Syifa, Desa Turus, Kecamatan Gurah, tidak hanya menjadi sarana memperdalam ilmu agama bagi masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang berbagi kepada warga sekitar, khususnya bagi mereka yang membutuhkan.
Setiap Jumat Legi selepas salat Subuh, suasana masjid yang berada di wilayah Desa Turus itu tampak lebih ramai dari biasanya. Banyak jemaah yang memilih tetap berada di dalam masjid setelah menunaikan salat berjemaah untuk mengikuti kajian kitab yang menjadi agenda rutin di tempat tersebut.
Pengajian biasanya dimulai sekitar pukul 05.00 atau tidak lama setelah salat Subuh selesai dilaksanakan. Selama kurang lebih setengah jam, para jemaah mengikuti kajian fikih yang membahas berbagai amalan ibadah sehari-hari.
Ketua Takmir Masjid As Syifa Turus, Moh. Nur Hudi, menjelaskan kepada awak media bahwa kitab yang dikaji dalam kegiatan tersebut adalah Fathul Qarib. Materi yang disampaikan berfokus pada pembahasan fikih dasar seperti tata cara wudu, salat, hingga hal-hal yang dapat membatalkan ibadah.
Menurutnya, kajian tersebut diisi secara bergantian oleh Rais Syuriah NU Turus, Kiai Muhammad Asnawi, serta Ketua LDNU Turus, Kiai Ahmad Busairi. Setelah penyampaian materi selesai, kegiatan biasanya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama jemaah.
Nur Hudi menyampaikan bahwa peserta kajian tidak hanya berasal dari warga sekitar masjid. Beberapa jemaah juga datang dari desa tetangga bahkan ada pula musafir yang singgah untuk mengikuti pengajian setelah salat Subuh.
Meski lokasi masjid berada agak jauh dari kawasan permukiman padat, jumlah peserta yang hadir terbilang cukup banyak. Dalam setiap pertemuan, jumlah jemaah biasanya berkisar antara 60 hingga 100 orang dengan latar belakang usia yang beragam, mulai dari kalangan orang tua hingga anak muda.
Setelah kajian selesai, para jemaah biasanya tidak langsung meninggalkan masjid. Pengurus masjid telah menyiapkan sarapan bersama yang bisa dinikmati oleh seluruh peserta kajian.
Tidak jarang pula para jemaah mendapatkan bingkisan berupa bahan makanan untuk dibawa pulang. Menurut Nur Hudi, kegiatan tersebut memang dirancang tidak hanya sebagai pengajian semata, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat.
Ia menjelaskan kepada awak media bahwa kegiatan ini bertujuan mengajak masyarakat untuk meramaikan salat Subuh berjemaah sekaligus memperkuat semangat berbagi di tengah lingkungan sekitar.
Selain itu, karena lokasi masjid berada cukup jauh dari kawasan permukiman, kegiatan ini juga ditujukan untuk mengajak masyarakat yang selama ini jarang datang ke masjid agar lebih dekat dengan kegiatan keagamaan.
Oleh karena itu, materi yang dipilih dalam kajian tersebut lebih banyak membahas fikih dasar agar mudah dipahami oleh masyarakat umum.
Tradisi kajian tersebut juga tetap dilaksanakan selama bulan Ramadan. Bedanya, kegiatan dilakukan menjelang waktu berbuka puasa.
Para jemaah terlebih dahulu mengikuti pengajian kitab sebelum melaksanakan buka puasa bersama di masjid. Tahun ini, kitab yang dipelajari dalam kajian Ramadan adalah Taisirul Kholaq.
Nur Hudi menjelaskan bahwa kegiatan kajian menjelang berbuka puasa tersebut telah berlangsung selama dua tahun terakhir.
Selain pengajian, pengurus masjid juga mengundang sejumlah warga, khususnya dari kalangan kurang mampu, untuk hadir dalam kegiatan tersebut. Undangan biasanya dikoordinasikan melalui ketua RT setempat dan dilakukan secara bergiliran agar merata di setiap lingkungan.
Warga yang diundang tidak hanya mengikuti kajian dan berbuka bersama, tetapi juga menerima bingkisan sembako dari pengurus masjid.
Meski demikian, kegiatan tersebut tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin datang mengikuti pengajian maupun berbuka bersama.
Menurut Nur Hudi, rata-rata sekitar 40 hingga 45 orang mengikuti kajian menjelang berbuka selama bulan Ramadan. Jumlah tersebut terdiri dari warga undangan serta masyarakat umum yang datang secara sukarela.
Bagi pengurus masjid, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas keagamaan. Mereka berharap kajian kitab yang digelar dapat menjadi sarana mempererat hubungan sosial sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih dekat dengan masjid.
(Red.EI)

Social Header